Langsung ke konten utama

IMAN MEMBAWA KESELAMATAN

 


"Iman", kata ini memang pendek diucap lidah. Tapi, besar manfaatnya bagi manusia. Ketika iman tumbuh didalam relung jiwa dan hati. Maka jiwa menjadi hidup dan hati menjadi tenang. Iman senantiasa mendorong pada kedekatan kepada Allah. Mendorong pada cinta. Bahkan cinta bisa terwujud pada tempat yang tepat jika iman menyertainya. Sehingga iman adalah perisai yang membuat manusia hidup dalam kedamaian dan kenikmatan. Dengan iman Agama menjadi ringan terlaksana dan tanpa beban.

Iman membawa seseorang pada kehati-hatian. Hati-hati dalam berpikir, hati-hati dalam menaruh perasaan, hati-hati dalam melihat, hati-hati dalam berbicara, hati-hati dalam melangkah, hati-hati dalam mengambil, hati-hati dalam berbuat, dan hati-hati dalam segala hal.







Jika seseorang telah memiliki iman dengan sempurna, maka  tidak ada lagi kata bohong, cacian dan makian. Yang ada hanyalah ucapan yang menyenangkan, tutur kata yang baik, dan perkataan yang berfaedah. 

Iman berfungsi untuk membentuk manusia yang berkarakter, berakhlak, dan berkepribadian unggul. Pasalnya, tidak ada lagi kata untuk menyianyiakan waktu bagi orang-orang yang beriman. Iman selalu mendorong seseorang memanfaatkan setiap waktu pada aktifitas yang menguntungkan. Senantiasa Belajar dan beramal soleh. 
 
Allah Swt berfirman:
وَا لْعَصْرِ
اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ

Demi masa (waktu), seungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. QS. al-Ashr/103:1-3.

Itulah iman, ia menjadi pembuka bagi seseorang dalam melakukan amal, menggerakan seseorang untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.








Iman mampu mendorongan seseorang untuk memanfaatkan dan memaksimalkan ibadah. Sholat jadi tepat waktu dan kemakmuran masjidpun juga terjaga. Maka orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang hatinya ada iman. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰۤى اُولٰٓئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ


"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah 9: Ayat 18).

Demikianlah pentingnya iman. Iman menjadikan masjid hidup. Kegiatan-kegiatan masjid terlaksana, suara bacaan al-Qur'an menggema dan adzanpun demikian. Imanlah yang menjadi jalan penghubung kepada Allah. Sholat menjadi rutin sebagai kendraannya. Taqwa menjadi aktifitas untuk bertemu dengan yang diimani (Allah swt).








Akhirnya, orang yang beriman tidak ada rasa takut pada mereka kecuali kepada Allah, mereka tidak bersedih hati. Allah senantiasa bersama dengan mereka. Itulah orang-orang yang beriman.

Oleh: Admin
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

     ANIN LIHI, M. AG SELAMAT MENUNAIKAN SHALAT IDHUL ADHA 1443 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

Sekilas Memahami Islam, Iman, dan Ihsan

  السلام عليكم وَرَحْمَةُ الله وبركاته                                                                     انَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونَسْتَغْفِرُهُ ˛ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْش ُ رُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ˛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مَضِلَّلَهُ ˛ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَلَهُ˛ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ˛ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمدٍ. أَمَّا بَعْدُ. فيَاعِبَادَ اللهِ أُصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ, وَقَالَ تَعَالَى فِى قُرْأنِهِ الْكَرِيْمِ˛ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ˛ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ˛ يَاأَيُّهَا النَّاسُ التَّقُوْا رَبَّكُمُ الَذِي ...

GENERASI TERSESAT

 Seringkali kita mendengar kisah dari orang yang membanggakan leluhurnya, asal kelahirannya, Datuknya, Kakeknya, ayahnya, ibunya, dan saudaranya. Dia mulai bercerita, Leluhurku dulu seorang alim ulama, kakekku dulu seorang abid, ayah dan ibuku ahli ibadah dan ahli Qur'an. Mereka Tidak pernah meninggalkan shalat dan bahkan mereka juga telah dipanggil haji,  ada yang menjadi Kiyai, Ustadz, Ulama, Imam, dan Qori' terkenal. Kampungnya diceritakannya sebagai kampung ulama, jamaah masjidnya selalu penuh, dikampung itu tidak kami kenal yang namanya pesta, pemuda tidak menyukai minuman keras, kehidupan begitu akur. Semua itu terwujud karena  kampung itu terkenal sebagai pengamal agama yang aktif. Terbukti dahulu jamaah shalat fardhu di masjid selalu penuh, kegiatan keagamaan selalu hidup, pengajian tiap ramadhan selalu diadakan, dan dirumah-rumah sering terdengar bacaan al-Qur'an dan shalawat. Itulah keadaan kampungku dan amal leluhurku dulu. Seiring berjalannya waktu, suasana ke...